Sekolah Inklusi Akan Ditambah

Sekolah Inklusi Akan Ditambah

Sekolah Inklusi Akan Ditambah
Sekolah Inklusi Akan Ditambah

Bandung Barat baru miliki 11 sekolah inklusi. Jumlah tersebut dianggap kurang, jika dibandingkan dengan total sekolah yang ada di Bandung Barat. Walaupun begitu, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bandung Barat akan bertekad memperbanyak sekolah insklusi setiap tahunnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, sekolah insklusi sudah masuk mulai dari Sekolah Dasar (SD)

hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).Untuk tingkat SD diantaranya, SD 1 Cililin, SD Cisomang Cikalongwetan dan SD Sudimampir Padalarang. Untuk tingkat SMP, yaitu SMP Arafah Cililin dan SMP Gemilang Mutafannin Ngamprah.

Kasi Kurikulum dan Kesiswaan Bidang SMP Disdikpora Bandung Barat Dadang Sapardan menyatakan, untuk tingkat SMA, sekolah inklusi sudah dibuka di 6 SMA berstatus negeri. ”Setiap tahun kita buka sekolah inklusi ini untuk memberikan hak yang sama bagi ABK,” kata Dadang kepada wartawan di Ngamprah, Minggu (2/10).

Saat ini, tinggal menunggu kesiapan para orang tua yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusu (ABK) untuk masuk ke sekolah inklusi tersebut. Disdikpora terus mendorong para orangtua yang memiliki ABK untuk menyekolahkan anaknya di sekolah inklusi yang sudah ditunjuk.

Diungkapkannya, sekolah inklusi merupakan sekolah umum yang diisi oleh Anak Tanpa Berkebutuhan Khusus

(ATBK). Di mana akan belajar bersama-sama dalam satu kelas dengan ABK. Tujuannya, untuk membiasakan pergaulan serta komunikasi antara ATBK dan ABK. ”Ketika ABK ini keluar dari sekolah inklusi, mereka bisa bergaul, berkomunikasi dan tidak minder ketika bersama anak-anak ATBK,” terangnya.

Ditanya soal kesiapan guru pengajar, kata dia, sejauh ini sudah ada dan siap untuk mengajar ABK. Guru tersebut sebelumnya sudah diberikan pelatihan agar bisa membedakan saat mengajar pada ABK.

”Yang pasti gurunya harus lebih sabar ketika berhadapan dengan ABK. Bahkan, guru-guru ini bekerjasama

dengan komunitas Save The Children agar lebih memahami ketika mengajar ABK,” ungkapnya.

Selain mendirikan sekolah inklusi, Pemkab Bandung Barat juga melakukan sosialisasi dan peresmian situs resmi tentang program Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM). Hal ini, dilakukan untuk mendapatkan pembinaan, pelatihan dan pendidikan bagi anak-anak penyandang disabilitas. Program RBM ini langsung diresmikan oleh Bupati Bandung Barat Abubakar di Lembang belum lama ini.

Ketua Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) Kabupaten Bandung Barat Dian Rosita sekololah insklusi bertujuan untuk menghindari perbedaan antara para murid penyandang disabilitas dengan murid normal lainnya. ”Melalui RBM berbagai program diupayakan untuk menangani para penyandang disabilitas dari usia 0-18 tahun,” kata dia.

”Program tersebut, di antaranya mulai dari sekolah bermain, terapis keliling, penyuluhan kepada orang tua dan kebutuhan lainnya,” pungkasnya.

 

Baca Juga :