Pengertian Al-Wara

Pengertian Al-WaraPengertian Al-Wara

Secara lughawi wara’ artinya hati-hati. Secara istilah wara’ adalah sikap menahan diri agar hatimu tidak menyimpangkap sekejap pun dari mengingat Allah. Sufi yang lain mengemukakan bahwa wara’ adalah seorang hamba tidak berbicara melainkan dalam kebenaran, baik dalam keadaan rida maupun dalam keadaan marah.[1]

Definisi wara’ menurut Sufi, adalah bahwa : “Kamu menahan diri agar hatimu tidak menyimpang dalam sekejappun dari mengingat Allah. Jadi, wara’ itu permulaannya zuhud, keberadaannya wara’ karena ada rasa takut akan Allah, takut terjadi karena makrifat kepada Allah, makrifat sendiri terjadi karena dekat dengan Allah SWT (taqarrub).

Dalam tradisi sufi yang dimaksud dengan wara’ adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak jelas atau jelas hukumnya (subhat).[2] Hal ini berlaku pada segala hal atau aktifitas kehidupan manusia, baik yang berupa benda maupun perilaku seperti makanan, minuman, pakaian, pembicaraan, perjalanan, duduk, berdiri, bersantai bekerja dan lain-lain. Disamping meninggalkan segala sesuatu yang belum jelas hukumnya, dalam tradisi sufi wara’ juga berarti meninggalkan segala sesuatu yang berlebihan, baik berwujud benda maupun perilaku. Lebih dari itu meningglkan segala segala sesuatu yang tidak bermanfaat, atau tidak jelas manfaatnya.

Adapun yang menjadi dasar ajaran wara’ adalah nabi Muhammad SAW artinya: “Sebagian dari kebaikan tindakan keislaman seseorang adalah bahwa ia menjauihi sesuatu yang tidak berarti.” Juga hadits lain yang artinya: “: Bersikaplah wara’ dan kamu akan menjadi orang yang paling taat beribadah”

  1. Tingkatan Wara’

Wara’ ada empat tingkatan, yaitu:

  1. Wara’ orang ‘awam

yakni wara’ orang kebanyakan yaitu menahan diri dari melakukan hal-hal yang dilarang Allah SWT.

  1. Wara’ orang saleh

Menahan diri dari menyentuh atau memakan sesuatu yang mungkin akan jatuh kepada haram, misalnya memakan sesuatu yang tidak jelas hukumnya (subhat)

  1. Wara’ muttaqin

Menahan diri dari sesuatu yang tidak diharamkan dan tidak syubhat karena takut jatuh kepada yang haram.

Nabi bersabda, yang artinya:

“seorang hamba tidak akan mencapai derajat muttaqin sehingga dia meninggalkan apa yang tidak berdosa karena takut akan apa yang dapat menimbulkan dosa” (HR. Ibn Majah)

  1. Wara’ orang benar

Wara’ orang benar ialah menahan diri dari apa yang tidak berdosa sama sekali dan tidak khawatir jatuh kedalam dosa, tapi dia menahan diri melakukannya karena takut tidak ada niat untuk beribadah kepada Allah atau karena dapat membawanya kepada sebab-sebab yang memudahkannya jatuh kepada yang makruh atau maksiat. Menahan diri melakukan sesuatu yang tidak dilarang karena takut tidak ada niat untuk beribadah kepada Allah

Sumber :

https://rakyatlampung.co.id/