Obyektif vs Interpretif

Obyektif vs Interpretif

Obyektif vs Interpretif

Griffin jauh lebih cepat dibandingkan dengan Littlejohn

dalam merespon ide Craig. Setahun setelah Craig menuliskan idenya (1999) Griffin dalam bukunya A First Look at Communication Theory Edisi 4 (tahun 2000) memasukan ide ini sebagai salah satu bagian dari chapter bukunya. Dalam hal ini Griffin sangat menyanjung Craig dengan mengatakan, “Craig offers a more sophisticated solution” (2009: 41).
Mengapa Griffin mendukung ide Craig karena menurutnya pendekatan Craig ini menggunakan apa yang sudah dilakukan dalam problem dan praktek komunikasi sehari-hari. Jadi menurut Griffin apa yang ada dalam Tujuh Tradisi dalam Teori Komunikasi ini merupakan tujuh tradisi yang sudah dilakukan sebelumnya. Yang terpenting adalah bahwa tradisi dalam teori komunikasi ini menawarkan perbedaan, yaitu perbedaan dalam cara-cara mengkonseptualkan problem dan praktek komunikasi. Dari sini akan muncul kesadaran setiap ilmuwan yang berbicara dalam tiap tradisi tidak akan memandang lagi keilmuannya secara terkotak-kotak sesuai asal mereka.
Dalam menerima ide Tujuh Perspektif Tradisi dalam Teori Komunikasi, Griffin tetap memegang komitmen awal dari apa yang telah diajarkannya bahwa dalam melihat teori harus membedakannya berdasarkan pendekatan obyektif ataukah interpretif. Ciri-ciri pendekatan objektif menurutnya antara lain the assumption that truth is singular and accessible through unbiased sensory observation; committed to uncovering cause and effect relationship (2009: 14), teori-teori yang bersifat positivis dan berprinsip pada hipothetico deductive verificative. Hubungan antara peneliti dengan yang diteliti terpisah dimana peneliti berada di luar obyek yang diteliti. Pendekatan interpretif merupakan the linguistic work of assigning or value to communicative texts; assumes that multiple meaning or truth are possible (Ibid.: 15).

Pengelompokan Tujuh Persepektif dalam Tradisi Komunikasi menurut Griffin menjadi tidak seperti pemikiran Craig ataupun Littlejohn. Pengelompokan masing-masing tradisi dilakukannya berdasarkan pendekatan obyektif ataukah interpretif. Hal ini dijelaskannya, “It’s important to realize that location of each tradition on the map is far from random. My rationale for placing them where they are is based on the distiction between objective and interpretive theories (2009: 51).


Sumber: https://civitas.uns.ac.id/kasiono/seva-mobil-bekas/