Mulai Mengarahkan Sang Anak

Table of Contents

Mulai Mengarahkan Sang Anak

Mulai Mengarahkan Sang Anak
Mulai Mengarahkan Sang Anak

Pola konstruksi pikir kita pada dasarnya merupakan hasil endapan dari pengalaman hidup sejak kecil, remaja, hingga dewasa saat ini yang nantinya anak-anak kitalah yang akan mewarisi pengalaman hidup kita. Apabila hal ini tidak dirubah menuju ynag lebih baik, maka etika, sopan santun, kebaikan, dan keburukan pun akan dimonopoli oleh orangtua, walaupun dengan tujuan untuk kebaikan anak-anak mereka dan dilakukan atas dasar rasa kasih sayang, sebaliknya kebenaran yang ditemukan dari hasil pengalaman anak sekarang misalnya, yang pada waktu kita kecil belum ada, lalu menjadi diabaikan atau bahkan tidak diakui. Di sinilah terkadang terjadi kesalahan, orangtua memaksa anak untuk menuruti apa yang menjadi kemauan mereka. Di sinilah terjadi pemaksaan kehendak atas apa yang orangtua pikirkan untuk harus dilakukan oleh sang anak.

Apabila ditelusuri lebih lanjut, memang hal seperti itu terlihat terjadi begitu saja. Suatu sistem budaya yang melingkup lingkungan keluarga terjadi turun-temurun dari orangtua kepada sang anak yang membentuk kesadara, karakter, ekspansi yang tanpa kita sadari telah kita wariskan kepada anak tanpa memperhatikan perbedaan ruang, masa, dan tantangan yang akan dihadapinya kelak.

Orang tua dalam mengarahkan dan membimbing sang anak diharapkan seperti pelatih bola. Ia harus bisa mengarahkan sang anak untuk menjadi apa yang sebenarnya dicita-citakannya. Setelah mengetahui apa keinginan anak, lalu orangtua sebagai pelatih mulai melatihnya setiap saat untuk mengoptimalkan keahliannya. Pelatih harus tetap berasa di sisi lapangan dan tidak boleh memasuki area lapangan sama sekali.

Pelatih hanya dapat menginstruksikan, menunjukkan, menginfromasikan prinsip-prinsip strategi dalam bermain. Kalau sang anak salah, sang pelatih tidak boleh menegurnya dan bila sang anak melakukan kesalahan yang sangat fatal, maka sang anak boleh dimarahi tetapi dalam tahap yang masih wajar dan tentunya memberi dorongan. Gambaran pola asuh yang seperti ini, apda dasarnya memberi peluang kreativitas sang anak dan membantu sang anak menemukan jati dirinya.