KESEIMBANGAN PERMINTAAN DAN PENAWARAN

KESEIMBANGAN PERMINTAAN DAN PENAWARAN

KESEIMBANGAN PERMINTAAN DAN PENAWARAN
KESEIMBANGAN PERMINTAAN DAN PENAWARAN
Setiap transaksi jual beli pasti ada hukum permintaan dan hukum penawaran yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain dimana konsumen sebagai pihak meminta dan penjual sebagai pihak menawar. Maksudnya adalah konsumen sebagai pihak yang ingin meminta (membeli) barang kepada penjual sedangkan penjual sebagai pihak yang ingin menawarkan barangnya kepada konsumen.
“Sebagai konsumen tentu ingin membeli barang dengan harga semurah-murahnya, sedangkan sebagai penjual tentu ingin menjual barang dengan harga setinggi-tingginya.” Jika melihat dari argumen tersebut bisa disimpulkan bahwa hukum permintaan dan penawaran tidak akan menemui penyelesaian alias deadlock.
Agar hukum permintaan dan penawaran dapat berjalan dengan baik, maka dibuatlah harga keseimbangan, dimana sebagai penetapan harga patokan dalam menilai harga suatu barang. Harga keseimbangan sering disebut sebagai harga pasar. Harga pasar ditentukan oleh rumusan dari proses tawar menawar antara konsumen dengan penjual.
Contoh penerapan hukum permintaan dan penawaran yang terjadi:
1. Masyarakat dengan tingkat ekonomi yang rendah, mempunyai kecenderungan untuk mencari barang dengan harga yang lebih murah, oleh karena itu mereka lebih memilih membeli barang di pasar tradisional daripada di pusat perbelanjaan (Hukum permintaan)
2. Tingkat kemampuan daya beli di kota lebih tinggi daripada di desa sehingga penjual bisa menjual barang dengan harga yang lebih tinggi daripada penjual di desa. (Hukum pernawaran)
3. Toko “B” lebih banyak pembeli daripada toko “C” karena berani menjual dibawah harga pasar dengan produk jual yang sama. (Hukum permintaan)
4. Toko “Z” berani menjual produknya diatas harga pasar karena produk tersebut sedang digemari oleh masyarakat saat ini. (Hukum penawaran)