Identitas Hibrida

Table of Contents

Identitas Hibrida

Identitas Hibrida
Identitas Hibrida

Dalam bukunya yang terkanal, Imagined Communities: Reflections on the Origins and spread of Nationalism (1983), Ben Anderson menyatakan bahwa “bangsa” adalah sebuah “komunitas imajiner” dan identitas nasional adalah sebuah konstruksi yang diciptakan lewat symbol-simbol dan ritual-ritual dalam hubugannya degan kategori administrated fan teritori. Menurutnya, bahasa nasional, kesadaran waktu, dan kesadaran ruang, merupakan konstruksi yang diciptakan lewat fasilitas-fasilitas komunikasi. Ia menjelaskan bahwa produksi Koran dan standar-standar bahasa yang kemudian menyediakan konsisi bagi terbentuknya sebuah kesadaran nasional.

Kritik yang bisa dikemukakan atas pemikiran Anderson ini adalah bahwa ia menganggap bahasa bersifat stail. Anderson terlalu menekankan aspek homogeny, kesatuan,dan kekuatan perasaan kebangsaan yang mengatasi perbedaan klas, gender, etnisitas dsb, dan tidak melihat bahwa perbedaan konteks dan lapangan-lapangan interaksi ternyata menciptakan identitas yang khusus dan berbeda-beda. Ketidakstabilan bahasa, menurut Homi Bhabha (1994), memaksa kita untuk tidak memikirkan kebudayaan dan identitas ebagai entitas yang bersifat tetap, tetapi selalu berubah.

Pemikiran Anderson juga tidak memadai untuk melihat bagaimana kebudayaan identitas terbentuk dalam globalisasi. Globalisasi menyediakan sebuah tempat yang lapang bagi konstruksi identitas; pertukaran benda-benda/simbol-simbol dan pergerakan antartempat yang semakin mudah, yang dikombinasikan dengan perkembangan teknologi komunikasi, membuat percampuran dan pertemuan kebudayaan juga semakin mudah.

Dalam globalisasi, kebudayaan dan identitas bersifat translokal (Pieterse 1995). Kebudayaan dan identitas tidak lagi mencukupi jika dipahami dalam term tempat, tetapi akan lebih baik jika dikonseptualisasikan dalam term perjalanan. Dalam konsep ini tercakup budaya dan orang yang selalu dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain, juga kebudayaan sebagai sites of criss-crossing travelers (Clifford 1992).

Sumber : https://uptodown.co.id/