Bagaimana Jakarta Agar Menjadi Kota Toleran di Indonesia?

Bagaimana Jakarta Agar Menjadi Kota Toleran di Indonesia?

Bagaimana Jakarta Agar Menjadi Kota Toleran di Indonesia
Bagaimana Jakarta Agar Menjadi Kota Toleran di Indonesia

Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT) 2018 se-Indonesia, hasilnya Kota Singkawang,

Kalimantan Barat dengan skor tertinggi 6,513, lalu diikuti oleh Salatiga dengan skor 6,477, Pematang Siantar 6,280, Manado 6,030, Ambon 5,960, Kota Bekasi 5,890, Kupang 5,857, Tomohon 5,833, Binjai 5,830 dan Surabaya 5,823.

Sebagai ibu kota, DKI Jakarta tidak masuk dalam daftar kota toleran tersebut. Hal itu terkait saat pemilihan gubernur (Pilgub) pada 2017, warga Jakarta terbelah dengan isu agama.

Sosiolog Universitas Nasional (Unas) Sigit Rochadi mengatakan pemerintah DKI harus kerja lebih keras untuk menghilangkan predikat intoleran terhadap ibu kota.

“Saat pilkada Jakarta, warga terbelah secara tajam. Membelah identitas primer,

terutama atas dasar agama. Jakarta harus lebih berat (bekerja) daripada kota yang tak terbelah,” kata Sigit di program Lunch Talk BeritaSatu TV, Senin (10/12/2018).

Lalu, bagaimana agar generasi muda khususnya di Jakarta tidak bersikap intoleran?

“Harus dimulai dari pendidikan di sekolah. Di mana guru-guru sekolah negeri digaji dari APBN

dan APBD yang juga dari masyarakat. Seharusnya semua sekolah negeri tidak boleh membangun identitas primer keagamaan. Sekolah negeri harus menjadi tempat promosi ideologi kebangsaan, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.

Dengan mempromosikan ideologi Pancasila, bukan berarti mengesampingkan pendidikan agama.

“Pendidikan agama sangat penting, tapi bukan menjadi satu sistem kepercayaan, itu yang harus diubah kurikulumnya. Agama sebagai sistem pengetahuan. Kepercayaan agama ditanamkan di dalam rumah, di masyarakat.” tutup Sigit.

 

Sumber :

https://vidmate.co.id/