Menerangkan Sifat-sifat Tokoh dari Kutipan Novel yang Dibacakan

Menerangkan Sifat-sifat Tokoh dari Kutipan Novel yang Dibacakan

Menerangkan Sifat-sifat Tokoh dari Kutipan Novel yang Dibacakan
Menerangkan Sifat-sifat Tokoh dari Kutipan Novel yang Dibacakan

Tentu saja penggambaran itu tidak persis sama. Ada perubahan-perubahan sesuai dengan visi pengarang.
Penggambaran watak tokoh tersebut dapat kalian ketahui melalui tiga cara, yakni dari segi fisis, segi psikis, dan segi sosiologis.

1. Segi Fisis

Pengarang menjelaskan keadaan fisik tokohnya yang meliputi usia, jenis kelamin, keadaan tubuh (tinggi, pendek, pincang, gagah, tampan, menarik, dan sebagainya). Ciri-ciri wajah (cantik, jelek, keriput, dan sebagainya), dan ciri khas yang spesifik.

2. Segi Psikis

Pengarang melukiskan tokoh berdasarkan latar belakang kejiwaan, kebiasaan, sifat, dan karakternya. Segi psikis meliputi moral, kecerdasan, temperamen, keinginan, perasaan pribadi, dan keahlian khusus yang dimilikinya.

3. Segi Sosiologis

Pengarang menggambarkan latar belakang kedudukan tokoh tersebut dalam masyarakat dan hubungannya dengan tokoh-tokoh lainnya.

contoh teks ulasan drama – Segi sosiologis meliputi status sosial (kaya, miskin, menengah), peranan dalam masyarakat, pendidikan, pandangan hidup, kepercayaan, aktivitas sosial, dan suku bangsa.

Contoh penggambaran watak tokoh dalam novel sebagai berikut:

Datuk Maringgih dalam “Sitti Nurbaya” adalah tokoh tua yang berwajah jelek (segi fisik), kikir, jahat, pendendam, suka menipu, dan mencelakakan orang, ambisius, dan licik (segi psikis), dan ia adalah pedagang ikan asin yang sukses sehingga usaha berkembang pesat untuk akhirnya menguasai berbagai sektor perdagangan dan perkebunan di Sumatra Barat (segi sosiologis).

Contoh Kutipan Novel

                                                         BAUSUKU
                                                   Karya: Agus S. Malma

Perempuan bernama Yusin itu duduk selonjor di bangku kayu di samping gubuknya, menunggu. Dipangkuannya, bocah berkulit kusam adalah anaknya, pulas tidur. Yusin mengelus rambut dan memandangi wajah bocah usia delapan tahun itu, terbenak hari-hari puluhan tahun hidupnya di perkampungan belakang pasar sayur.

Malam dingin dan gelap. Cahaya yang menyelinap dari sela-sela gubug yang berdiri tak beraturan itu tak sanggup menembus pekat asap pembakaran sampah yang habis tersiram hujan. Becek. Air menggenang di mana-mana. Parit kecil yang berkelok di samping gang sempit menebarkan aroma sayur busuk. Kaleng bekas menumpuk berbaur dengan serpihan kardus dan sampah plastik.

Seekor nyamuk hinggap di ruas tengah ibu jari kaki Yusin. Menghisap darah lewat pori kulit sambil nungging. Dengan susah, Yusin mengusir makhluk bermulut lancip itu. Ia tidak berani menepuknya karena takut bocah di pangkuannya terjaga. Sudah beberapa hari ini, bocah itu tidak mau tidur di dalam gubug.

”Di luar dingin. Banyak nyamuk!” kata Yusin pada anaknya pada saat pertama kali minta dipangku di luar malam-malam.

Malam di perkampungan dekat pasar di musim hujan memang dingin dan penuh nyamuk. Tapi tidak bagi anak lelaki Yusin. Ia akan memandang ibunya dengan tatapan seakan tak pernah mengenal kasih sayang kalau permintaannya tidak segera dituruti.

Daripada terganggu perasaan berdosa karena tidak mengajarkan pengertian yang khas diberikan orang tua pada anaknya, Yusin selalu menuruti kemauan anaknya…. Kalau malam sudah larut dan bocahnya sudah lelap, barulah Yusin membopongnya masuk gubug.
***
Perkampungan tanpa nama selain nama pasar sayur di depannya itu berpenghuni tetap anak-anak dan perempuan semata. Lelaki dewasa tak pernah ada yang tinggal lama di situ. Paling-paling mereka datang untuk memenuhi hasrat pada salah satu penghuni kampung yang genit mengerlingkan matanya di pasar siang-siang. Dan tak ada bedanya bagi Yusin yang duduk di luar atau tidur di dalam gubug. Sama-sama dingin dan bernyamuk. Juga sama-sama sunyi dan intaikan semua kemungkinan.

Yusin menekan dahi anaknya dengan telunjuk. Pelan. Darah meleleh. Bangkai seekor nyamuk menempel di ujung telunjuk Yusin. Ia mengusap-usapkannya pada dinding gubug. Bocah di pangkuannya mengerang. Terbangun. ”Ssst …” bisik Yusin sambil membelai rambut anaknya.

Lembut. Angin malam membawa kembali anak Yusin ke alam mimpi. Malam larut, terdengar anjing melolong dari rumah-rumah yang jauh dari tempat Yusin duduk bersambut cericit tikus di sekitar gubug.
Perempuan itu mengantuk. Matanya terpejam-pejam. Sesekali mulutnya terbuka lebar. Menguap. Dirasanya letih mendera sekujur tubuh. Ratusan kilogram sayur ia gendong siang tadi. Naik turun truk, keluar masuk pasar. Nafas demi nafas, kepala Yusin tertunduk. Lehernya menekuk, ujung dagunya menempel dada. Dari bibirnya terdengar decapan. Ia menahan liur.

Ketika dahinya mengantuk hidung bocah di pangkuannya, ia terjaga. Mengucek-ucek mata. Segera saja ia pegangi leher anaknya dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya menyelinap ke bawah paha satu-satunya lelaki yang masih ia cintai itu dan membopongnya masuk.

Dibaringkanya anak itu di sebuah bale beralas kardus, diselimutinya dengan kain batik coklat kusam sebelum ia sendiri berbaring miring berbantal lipatan tangan dengan kaki ditekuk. Ia melindungi anaknya, bahkan ketika nyenyak. Api senthir bergoyang tertiup angin. Asapnya hitam jadi jelaga. Sepi. Hanya guntingan koran di dinding. Ada juga gambar pahlawan anak berbaju besi warna hitam membawa pedang.
***
Ternyata parit kecil yang mengalir dari pasar sayur itu kental airnya. Seperti bubur. Aromanya bawang, cabai, kubis, dan segala macam sayur. Tapi busuk. Waktu sarapan perempuan–perempuan mengerumuni penjual nasi bungkus lauk teri dan bihun. Anak-anak berkulit kusam mbekisik jongkok buang hajat di parit, beberapa di antaranya belekan, selebihnya gudik.

Yusin membeli dua bungkus nasi dan satu pisang goreng. Anaknya belum bangun. Ia sarapan sendiri, pisang goreng dan bungkus nasi yang satunya ia letakkan di meja yang semalam ada senthirnya. Buru-buru ia tinggalkan gubuk dan anaknya. Ia tak kuat menahan hajat sejak bangun tidur tadi.

Seperti biasa, ia mandi di pancuran pojok pasar. Di sanalah Yusin dan perempuanpermpuan belakang pasar membersihkan diri sebelum dan sesudah berkintal-kintal sayuran mereka gendong.

Selesai mandi, Yusin bergabung dengan teman perempuan-perempuannya di pintu masuk pasar. Ngobrol ngalor ngidul sambil cekikikan. Akrab. Satu dua orang memekik ketika centeng pasar lewat dan tangannya menggamit pantat atau apa saja bagian tubuh mereka sekedar unjuk kuasa pagi-pagi. Tapi cibiran perempuan-perempuan itu membuat centeng pasar yang tubuhnya penuh tato tak sanggup ngakak bangga. Ia cuma cengengesan menahan perasaan nggak enak. Hambar.

Sebuah pick up L300 masuk. Baknya penuh bawang merah segar ikatan. Di samping sopir, duduk perempuan gemuk bermake up tebal memegang tas tenteng bertuliskan nama toko emas. Juragan bawang. Tiga orang teman Yusin yang datang paling pagi bergegas naik setelah menyapa perempuan di samping sopir.

Yusin dan teman-temannya meneruskan obrolan. Centeng pasar datang lagi. Ia meminta empat orang untuk menaikkan karung-karung berisi cabai merah ke atas Fuso yang parkir di dalam pasar sejak semalam. ”Buat pasar induk!” kata centeng pasar ketika salah seorang bertanya. Basa-basi.

Siang naik, begitu pun kesibukan di pasar. Truk-truk datang dari jauh dan pergi sampai jauh. Membawa hasil bumi dari dan ke pulau seberang. Saling tukar. Juragan, centeng mengejar anakanak yang dengan terampil menjumput butiran bawang dari tumpukannya. Ada yang dibentak bahkan ditempeleng.

Entah supaya apa. Sopir truk bercanda dengan pelayan warung sementara kernetnya mendengkur kelelahan di jok. Sumpah serapah berhamburan di mulut lelaki berlepotan oli yang sibuk di kolong truk yang parkir di belakang truk yang kernetnya sedang mendengkur. Seorang tukang becak mengelap wajah dan lehernya dengan handuk kecil setelah melahap sarapan bubur kacang ijo. Di tangannya terselip sebatang rokok.