Mayoritas Siswa SMP Ikut Ujian Nasional Berbasis Komputer

Mayoritas Siswa SMP Ikut Ujian Nasional Berbasis Komputer

Mayoritas Siswa SMP Ikut Ujian Nasional Berbasis Komputer
Mayoritas Siswa SMP Ikut Ujian Nasional Berbasis Komputer

Sebanyak 4.279.008 siswa SMP/Mts menjalani ujian nasional serentak, kemarin. Peserta ujian nasional berbasis komputer (UNBK) ternyata lebih banyak dibandingkan peserta ujian nasional berbasis kertas dan pensil (UNKP).

Berdasarkan data Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), model UN SMP/MTs

tahun ini menggunakan UNBK dan UNKP sedangkan ujian nasional dilaksanakan mulai Senin (22/4) sampai dengan Kamis (25/4). Mata pelajaran yang diujikan hari pertama yakni Bahasa Indonesia.

Selanjutnya berturut-turut hingga hari terakhir yakni Matematika, Bahasa Inggris dan Ilmu Pengetahuan Alam Peserta UNBK sebanyak 3.581.169 (83%), sisanya 697.839 (16.3%) siswa masih menggunakan moda UNKP. UN tahun ini dilaksanakan di 56.505 SMP/MTs. Dari jumlah tersebut, sebanyak 43.836 (78%) SMP/MTs telah menggunakan moda UNBK.

Baca Juga:

Penerapan Sistem Zonasi Membutuhkan Perpres

Sinergi Komunitas Penting untuk Wujudkan Pendidikan Berkualitas

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, pelaksanaan UNBK 2019 sejauh ini berjalan lancar dan sesuai prosedur operasional standar (POS) penyelenggara UN. Siswa berada di kelas sesuai dengan jadwal yang ditetapkan dan penyelenggaraan UN dan diawasi oleh pengawas dari sekolah lain.

“Secara umum semuanya berjalan bagus, sudah sesuai standar yang ditetapkan. Untuk UN dimulai dari prosesnya tentang soal diproses sampai ke tangan siswa, kemudian sistem pengawasannya ditukar antar sekolah, jumlah peserta juga teratur,” katanya seusai sidak di SMPN 11 dan SMPN 19 Jakarta kemarin.

Muhadjir menjelaskan, peningkatan sarana prasarana yakni komputer

dan jaringan internet akan diupayakan untuk ditingkatkan. Bahkan, Kemendikbud menargetkan pada tahun depan sudah 100% UNBK. Saat ini, mayoritas daerah yang tidak bisa melaksanakan UNBK berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Di daerah tersebut yang belum tersedia dengan baik ialah sarana prasarana teknologi informasi (IT).

Kepala BSNP Bambang Suryadi menambahkan, untuk mengantisipasi kemungkinan hambatan listrik mati atau gangguan komputer selama UNBK berlangsung maka Kemendikbud telah berkoordinasi dengan PLN untuk memastikan asupan daya listrik tidak ada gangguan. Selain itu, sebagian pihak sekolah menyediakan genset.

Sedangkan guna mengatasi terjadinya kecurangan dalam UN, Kemendikbud dan dinas pendidikan meminta kepada para kepala sekolah juga pengawas ruang, dan peserta untuk mematuhi tata tertib UN. “Integritas dalam pelaksanaan UN tidak bisa ditawar alias mutlak diterapkan,” tegasnya.

 

Baca Juga :